Hari Kartini Dan Polemik Pembangunan Pabrik Semen di Pegunungan Kendeng

21 April diperingati sebagai hari Kartini, Ini ditetapkan sesuai dengan surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964 dimana kartini ditetapkan sebagai pahlawan nasional. R. A Kartini lahir pada keluarga ningrat di kalangan masyarakat jawa Tengah, ayahnya merupakan seorang bupati Jepara pada saat itu. Tetapi keadaan kartini yang lahir pada keluarga ningarat ini tidak berbanding lurus dengan kesejahteraannya terutama pada wilayah pendidikan, karena pada jaman itu seorang wanita hanya boleh berpendidikan sampai jenjang SD saja. Kisah R.A Kartini ini lalau dibukukan dengan judul “ habis gelap terbitlah terang, ia membongkar sistem patriarki serta feodalisme di kalangan masyarakat Jawa.

Setelah 113 tahun wafatnya R.A Kartini, tetapi pemiskinan terhadap kaum perempuan di Indonesia masih terjadi. Sistem kapitalisme yang menempatkan perempuan sebagai objek ekspoitasi untuk kepentingan bisnis dimana perempuan adalah yang paling dekat terkena dampaknya. Hal ini yang terjadi pada Perempuan kendeng masih konsisten melawan pembangunan pabrik semen pada Pegunungan Kendeng yang membentang dari Kabupaten Pati, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Rembang, dan Kabupaten Blora di Jawa Tengah; hingga Kabupaten Bojonegoro, dan Kabupaten Lamongan di Jawa Timur. Wilayah pegunungan kapur ini menurut Van Bemmelen (1949) merupakan bagian dari Zona Rembang.

Telah banyak hal yang dilakukan oleh perempuan kendeng untuk mempertahankan ibu buminya salah satunya adalah  dengan mengecor kaki di depan Istana Negara menggunakan semen yang mana aksi pengecoran kaki ini sampai memakan korban ibu Patmi (48 tahun). Perlawanan perempuan kendeng yang sangat konsisten serta penuh dengan kesadaran akan dampak yang ditimbulkan apabila batugamping dan tanah liat dieksploitasi sebagai bahan tambang, maka sumber daya air bawah tanah yang menjadi penopang penting bagi kehidupan pertanian dan kebutuhan rumah tangga warga sekitar menjadi terancam. Demikian pula sebaliknya, bila sumber daya air bawah tanah dikonservasi maka batugamping dan tanah liat tidak dapat dieksploitasi sebagai bahan tambang.

Pendidikan yang menjadi hal utama diperjuangkan oleh R.A Kartini agar perempuan terbebas dari kebodohan hari ini dijadikan komoditas oleh PT. Semen Indonesia kepada Masyarakat disektira pegunungan kendeng. PT. Semen Indonesia memberikan beasiswa pendidikan paket A, B, C  bagi masyarakat sebagai dalil untuk bisa bekerja di Pabrik Semen tersebut. Peserta yang merupakan paling banyak kaum perempuan ini diiming-imingi untuk masuk menjadi buruh di perusahaan tersebut (Media Indonesia). Sebagaimana kita ketahui bersama  Pembangunan pabrik semen di pegunungan kendeng masih menjadi polemik, Pemerintah sudah mengelurkan KHLS tapi tidak berpengaruh pada pengoprasian pabrik yang masih berlanjut. Ironisnya perempuan yang mengikuti program paket A,B, C ini rata-rata tidak muda lagi. Artinya sebenarnya pemberian beasiswa oleh PT. Semen Indonesia ini merupakan bentuk untuk mencetak mereka sebagai buruh pabrik murah.  Seperti halnya teori produksi buruh perempuan di bayar murah serta dianggap dapat meningkatkan hasil produksi karena dikenal teliti dan terampil.

Dampak dari pembangunan pabrik semen ini akan sangat dirasakan oleh kaum perempuan Bukan hal baru bila perempuan tani berada di garda depan ketika terjadi konflik agraria di negeri ini, bukan hanya karena besarnya jumlah perempuan yang bekerja di sector agraria, namun lebih jauh lagi eratnya hubungan antara perlindungan sumber-sumber agraria bagi keberlangsungan hidup rakyat Indonesia yang mayoritas adalah kaum tani, dengan ketersediaan pangan yang layak, bergizi dan terjangkau diatas meja. Bila Negara dengan sengaja mengabaikannya maka kaum perempuan dan anak kerap kali yang pertama merasakan dampaknya. Mulai dari tingginya angka anak kurang gizi, kematian bayi dan ibu melahirkan di negeri ini, hingga tingginya angka perempuan dan anak masuk ke berbagai sektor ekonomi untuk bekerja dan kemudian mengalami berbagai penghisapan, diskriminasi dan bentuk-bentuk penindasan tidak manusiawi lainnya. Pembangunan pabrik semen semakin membuka corong ekspor buruh migran perempuan ke luar negeri karena kehilangan lahan pekerjaannya. Pembangunan pabrik semen di Rembang semakin menjauhkan perempuan dari alat produksinya dan membangun kesenjangan sosial pada masyarakat. Sehingga investasi sebesar 4 triliun ini tidaklah sebanding dengan akibat yang akan ditimbulkan. Maka dengan ini Presidium GMNI menyatakan Sikap :

  1. Pemerintah harus hadir dan berpihak kepada masyarakat dengan mencabut izin Produksi serta menutup pabrik semen yang ada di Rembang (Jawa Tengah).
  2. Mebebaskan masyarakat memilih cara penghidupan yang layak buat mereka sebagaimana amanah Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 A setiap orang berhak untuk hidup, mepertahankan hidup dan kehidupannya, demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

 

Wasanti

Presidium Komite Pergerakan Sarinah