Sikap Tegas Sukarno Membela Palestina

1197 views

“Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel”. (Sukarno, 1962)

palestina

Ucapan kemerdekaan dan ulang tahun RI dari Gaza, Palestina/ sastrahelvy.files

 

Dalam pidato yang disampaikan dalam pembukaan Konfrensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955 yang juga dihadiri pejuang Palestina Yasser Arafat, Sukarno menegaskankan bahwa kolonialisme belum mati, hanya berubah bentuknya.

Neokolonialisme itu ada di berbagai penjuru bumi, seperti Vietnam, Palestina, Aljazair, dan di beberapa belahan dunia yang lain.

Setelah KAA, menguatlah solidaritas Asia-Afrika  yang disertai semangat anti-kolonialisme yang berkobar dalam jiwa rakyat kedua benua. Soekarno semakin tegas mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.

Konsisten Menolak Israel

Pada tahun 1957, Timnas Sepakbola Indonesia memiliki generasi emas dalam diri Ramang dan kawan-kawan. Merekapun lolos sebagai juara grup 1 zona Asia. Kans besar untuk tampil di Piala Dunia yang akan digelar di Swedia edisi 1958 sudah di depan mata.

Tinggal satu fase lagi yang harus dilewati, yaitu “petempuran” juara grup dari zona Asia dan Afrika untuk memperebutkan jatah tampil di Swedia. Dari sini, kerumitan itu bermula. Hasil undian mempertemukan Indonesia, Mesir, Sudan dan Israel dalam satu grup, syarat untuk menembus Piala Dunia adalah berduel dengan Timnas Israel di lapangan hijau.

Dengan format pertandingan kandang-tandang, Indonesia harus berkunjung ke Tel Aviv, dan sebaliknya juga sudi menerima kehadiran Israel di tanah air, padahal Indonesia tidak pernah mengakui keberadaan Israel sebagai bentuk solideritas terhadap Palestina.

Bung Karno menyatakan Indonesia menolak tampil di fase ini, sebagai bentuk solidaritas kepada Palestina. Langkah serupa juga diambil Mesir. Israel tidak boleh menginjakkan kaki di bumi Indonesia.

Akhirnya FIFA menerbitkan keputusan bahwa Indonesia dianggap mengundurkan diri, sama halnya dengan Mesir, dan kemudian menyusul Sudan.

Kesempatan untuk tampil di Piala Dunia 1958 akhirnya benar-benar terbuang. Israel keluar sebagai pemenang grup tanpa lawan. Karena bagi Sukarno, Palestina adalah saudara yang harus dibela dan itu jauh lebih penting daripada sekedar sepakbola.

Solidaritas terhadap Palestina juga ditunjukkan Soekarno ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games, pesta olahraga Benua Asia, pada tahun 1962. Pemerintah Indonesia tidak bersedia memberikan visa kepada kontingen Israel yang akan berlaga. Saat itu, negara-negara Arab sedang bersengketa dengan Israel yang ditopang Barat.

Akibat dari sikap tersebut, Komite Olimpiade Internasional (IOC) menskors keanggotaan Indonesia dengan batas waktu yang tak ditentukan. Ternyata Sukarno menanggapinya dengan memerintahkan Komite Olimpiade Indonesia keluar dari IOC pada Februari 1963, IOC perpanjangan tangan dari kepentingan neo-kolonialisme dan imperialisme.

Perlawananpun belum berhenti, Sukarno menggelar pesta olahraga Games of the New Emerging Forces (Ganefo), November 1963, sebagai tandingan Olimpiade, yang diikuti 2.200 atlet dari 48 negara Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa. (daedy)